Sianida dan Efeknya Bagi Kesehatan Manusia - Beberapa waktu yang lalu dan hingga artikel ini di publikasikan, sedang hangat tentang kematian Wayan Mirna L Salimin baik diberitakan di media cetak maupun televisi swasta. Kepolisian memastikan berdasarkan hasil uji laboratorium bahwa Mirna meninggal dunia disebabkan karena racun sianida yang masuk kedalam tubuhnya melalui kopi yang diminumnya.
Apa Itu Sianida ?
Kata "SIANIDA" berasal dari bahasa Yunani yang berarti "BIRU". Hal ini mengacu pada hidrogen Sianida yang disebut Blaisaure (Blue Acid) di Jerman.
Sianida adalah senyawa kimia yang mengandung (C=N / CN) yang terdiri dari 3 buah atom karbon yang berikatan dengan atom hidrogen. Secara spesifik, sianida adalah anion CN-. Senyawa ini ada dalam bentuk gas, liquid dan solid, setiap senyawa tersebut dapat melepaskan anion CN- yang sangat beracun. Sianida sendiri dapat terbentuk alami maupun dibuat oleh manusia dan memiliki sifat racun yang sangat kuat dan bekerja dengan cepat. Contohnya adalah HCN (Hidrogen Siandia) dan KCN (Kalium Sianida).
Sejarah dan Penggunaan Sianida
Walaupun beberapa substansi yang mengandung sianida telah digunakan sebagai racun sejak berabad-abad yang lalu, sianida yang sesunggunya belum dikenal sampai tahun 1782. Pada saat itu sianida berhasil di indentifikasikan oleh ahli kimia yang berasal dari Swedia, Scheele, yang kemudian meninggal akibat keracunan sianida didalam laboratoriumnya.
Pada zaman kejayaan kerajaan Romawi, sianida digunakan sebagai senjata, sianida sebagai komponen yang sangat mematikan digunakan untuk meracuni anggota keluarga kerajaan dan orang-orang yang dianggap menggangu keamanan.
Napoleon mengusulkan untuk menggunakan sianida pada bayonet selama perang, Perancis menggunaka asam hidrosonik berbentuk gas. Di tahun 1916 Perancis mencoba jenis sianida gas lainnya yang mempunyai berat molekul lebih berat dari udara, lebih mudah terdisperasi dan mempunyai efek kumulatif. Zat yang digunakan adalah Cyanogen Chlorida, yang dibentuk dari pottasium sianida.
Austria ketika itu juga mengeluarkan gas beracun yang berasal dari potassium sianida dan bromin. Zat ini kemudian disebut sianogen bromida yang mempunyai efek iritasi yang sangat kuat pada konjungtifa mata dan pada mukosa saluran pernapasan. Di perang dunia II, Nazi Jerman menggunakan asam hidroianik yang disebut mereka Zyklon B untuk menghabisi rakyat sipil dan tentara musuh.
Sianida dalam kehidupan sehari-hari
Sianida yang berasal dari alam (amigdalin dan glikosida sinogenik lainnya) dapat ditemukan dalam biji aprikot, singkong dan banyak tanaman lainnya, beberapa diantaranya dapat berguna tergantung pada keperluan ethnobotanikal. Acetonotile, sebuah komponen pada perekat besi, dapat menyebabkan kematian pada anak-anak (Olson, 2007).
Sianida yang ditemukan di alam dan ada pada setiap produk yang biasa kita makan atau digunakan adalah dalam dosis yang sangat rendah. Menurut Dokter penyakit dalam dr. Adhiarta, Sianida juga dapat diproduksi oleh bakteri, jamur dan ganggan. Sianida juga ditemukan pada rokok, asap kendaraan bermotor dan makanan seperti bayam, bambu, kacang, tepung tapioka dan singkong.
Singkong menghasilkan sianida dalam bentuk senyawa glikosida sianogenik yang bernama linimarin. Senyawa tersebut relatif tidak beracun. Bergantung pada jenis singkong kadar asam sianida berbeda-beda. Namun tidak semua orang yang makan singkong akan menderita keracunan. Hal ini disebabkan selain kadar asam sianida yang terdapat dalam singkong itu sendiri, juga dipengaruhi oleh cara pengolahannya sampai dimakan. Diketauhi bahwa merendam singkong terlebih dahulu didalam air pada jangka waktu tertentu, kadar asam sianida (HCN) dalam singkong akan berkurang oleh karena HCN akan larut didalam air.
Selain itu juga dapat ditemukan pada beberapa produk sintetik. Sianida banyak digunakan pada industri terutama pembuatan garam seperti natrium, kalium atau kalsium sianida. Sianida juga digunakan oleh militer NATO (North American Treaty Organization) adalah jenis cair yaitu asam hidroionik (HCN). 1,3.
Senyawa Beracun Sianida
Hidrogen Sianida merupakan senyawa beracun yang dapat menganggu kesehatan serta mengurangi biovailabolitas nutrien di dalam tubuh. Sianida sering di jumpai di dalam kacang almond (Nio, 1989).
Keracunan hidrogen sianida dapat menyebabkan kematian, dan pemaparan secara sengaja dari sianida (termasuk garam sianida) dapat menjadi alat untuk melakukan pembunuhan atau bunuh diri (Olson, 2007).
Sifat Efek Racun
Efek racun dari sianida adalah memblok pengambilan dan penggunaan oksigen yang menyebabkan rendahnya kadar oksigen dalam jaringa. Senyawa yang dapat melepas ion sianida CN- sangat beracun. Jika ini masuk kedalam tubuh, sianida bekerja menghambat kinerja sel dalam tubuh, mengganggu penggunaan oksigen oleh sel dan menyebabkan kematian sel.
Pada dosisi tinggi sianida dapat menyebabkan kematian dala waktu 1-15 menit saja karena kekurangan oksigen. Potasioum sianida (KCN) adalah salah satu senyawa organik berbentuk serbuk (kristal) berwarna putih, sekilas tampilannya mirip gula halus atau kadang terlihat seperti bubuk detergen. Senyawa ini mudah sekali larut dalam air dan tak berwana bila dilarutkan dalam air.
Selain itu akibat, sianida tergantung pada jumlah paparan dan cara masuk tubuh, lewat pernapasan, atau pencernaan. Racun ini menghambat sel tubuh mendapatkan oksigen sehingga yang paling terpengaruh adalah jantung dan otak. Paparan dalam jumlah besar menyebabkan kejang, tekanan darah rendah, detak jantung melambat, kehilangan kesadaran, gangguan paru serta gagal napas hingga korban meninggal (Utama. 2006).
Proses Masuknya Sianida ke Tubuh
Jalur masuknya sianida dan bahan kimia umumnya ke dalam tubuh berbeda menurut situasi paparan. Metode kontak dengan racun secara umum meliputi berikut :
a. Melalui mulut karena tertelan (ingesti)
Sebagaian keracunan terjadi melalui jaringan ini anak-anak sering menelan racun secara tidak sengaja dan orang dewasa terkadang bunuh diri dengan menelan racun. Saat racun tertelan dan mencapai lambung, racun dapat melewati dinding usus dan masuk kedalam pembuluh darah, semakin lama racun tinggal di dalam usus maka jumlahnya yang masuk ke pembuluh darah juga semakin besar dan keracunan yang terjadi semakin parah (Henry, 1997)
b. Melalui paru-paru karena terhirup melalui mulut atau hidung (inhalasi)
Racun yang berbentuk gas, uap, debu, asap atau spray dapat terhirup melalui mulut dan hidung dan masuk paru-paru. Hanya partikel-partikel yang sangat kecil yang dapat melewati paru-paru. Pertikel-partikel yang lebih besar akan tertahan di mulut, tenggorokan dan hidung dan mungkin dapat tertelan. (Henry, 1997)
c. Melalui kulit yang terkena cairan atau spray
Orang yang bekerja dengan zat-zat kimia seperti pestisida dapat teracuni jika zat kimia tersemprot atau terciprat ke kulit mereka atau jika pakaian yang mereka terkena pestisida. Kulit merupakan barier yang melindungi tubuh dari racun, meskipun beberapa racun dapat masuk melalui kulit (Henry, 1997)
Gejala-Gejala Keracunan
Sianida dapat menimbulkan banyak gejala pada tubuh, termasuk pada tekanan darah, penglihatan, paru, saraf pusatm jantung, sistem otonom dan sistem metabolisme. Tanda awal keracunan sianida seperti Hiperpnea sementara, nyeri kepala, Dispnea, kecemasan, perubahan perilaku seperti agitasi dan gelisan, berkeringat banyak, warna kulit kemerahan, tubuh terasa lemah dan vertigo juga dapat muncul.
Dalam keracunan stadium kedua, tampak kecemasan berlebihan, koma.dan terjasi konvulsi, kejang, nafas tersengal-sengal, kolaps kardiovaskular, kulit menjadi dingin, berkeringat dan lembat. Nadi menjadi lemah dan lebih cepat. Tanda terakhir dari toksisitas sianida meliputi hipotensi, aritmia kompleks, gagal jantung, udem pada paru-paru dan kematian (Meredith, 1993).
Lakukan Cara Berikut jika Terkena Sianida
Jika terpapar zat sianida, berikut langkah-langkah pertama (pertolongan pertama) yang harus dilakukan (dikutip Health 11/01/2016)
1. Jika terkena pakaian, cepatlah melepasnya
Jika tidak memungkinan melepas pakaian melalui kepala, maka pakaian harus dipotoung. Hal ini untuk mencegah kontak langsung bagian tubuh terhadap zat sianida. Kemudian tempatkan pakaian dalam kantung plastik dan tutup dengan rapat. Buang kantung tersebut dilokasi yang aman dari orang lain, terutama anak-anak.
2. Jika terkena Kulit
Cepatlan mencuci zat sianida dari kulit memakai sabun dan air mengalir dalam jumlah yang banyak. Namun, jangan menggunakan pemutih untuk menghilangkan sianida dari kulit.
3. Jika Mengenai Aksesoris atau alat bantu organ
Bersihkan kacamata atau aksesoris yang Anda pakai dengan sabun dan air sebelum memakainya kembali. Namun untuk lensa komtak yang terpapar zat sianida sebaiknya di buang, agar tidak membahayakan mata.
Selain itu, Anda harus mematikan sianida terhirup, tertelan atau terserap kulit, baru bisa menanganinya dalam pertolongan pertama (dikutip dari webmd.com
1. Mengobati Sianida yang Terhirup atau Terlean
Bila ingin menolong seseorang yang menghirup gas sianida, maka Anda bisa membawanya kel luar menghirup udara segar. Jika Anda tidak bisa pergi jaun, usahakan paparan gas yang lebih besar, ketika teracuni sesak napas, lakukan Cardipulmonary Resuscitation (CPR), tapi ingat untuk tidak melakukan napas buatan.
2. Mengobati Kulit yang Terkena Sianida
Anda harus menghindari menyentuh orang yang terkena sianisa, hanya pihak medis dengan pakaian khusus yang bisa menyentuhnya. Jika Anda menyentuhnya bisa jadi racun tersebut akan menular dengan cara terserap kulit Anda.
3. Mengobati Mata yang Terkena Sianida
Jika mata Anda terkena Sianida, segera cuci mata dengan air selama 10 menit. Bila Anda menggunakan lensa kontak (kacamata), segera lepaskan dari mata Anda. Anda dapat mencuci kaca mata dengan sabun dan air buang lensa kontak tersebut.
4. Tindak Lanjut
Meskipun ketiga cara diatas merupakan pertolongan pertama bagi orang terkena Sianida, Anda tetap harus bisa melaporkan dan membawanya kepada pihak medis untuk diberikan penawar racun dan tambahan oksigen.
Dirangkum dari beberapa sumber.
Proses Masuknya Sianida ke Tubuh
Jalur masuknya sianida dan bahan kimia umumnya ke dalam tubuh berbeda menurut situasi paparan. Metode kontak dengan racun secara umum meliputi berikut :
a. Melalui mulut karena tertelan (ingesti)
Sebagaian keracunan terjadi melalui jaringan ini anak-anak sering menelan racun secara tidak sengaja dan orang dewasa terkadang bunuh diri dengan menelan racun. Saat racun tertelan dan mencapai lambung, racun dapat melewati dinding usus dan masuk kedalam pembuluh darah, semakin lama racun tinggal di dalam usus maka jumlahnya yang masuk ke pembuluh darah juga semakin besar dan keracunan yang terjadi semakin parah (Henry, 1997)
b. Melalui paru-paru karena terhirup melalui mulut atau hidung (inhalasi)
Racun yang berbentuk gas, uap, debu, asap atau spray dapat terhirup melalui mulut dan hidung dan masuk paru-paru. Hanya partikel-partikel yang sangat kecil yang dapat melewati paru-paru. Pertikel-partikel yang lebih besar akan tertahan di mulut, tenggorokan dan hidung dan mungkin dapat tertelan. (Henry, 1997)
c. Melalui kulit yang terkena cairan atau spray
Orang yang bekerja dengan zat-zat kimia seperti pestisida dapat teracuni jika zat kimia tersemprot atau terciprat ke kulit mereka atau jika pakaian yang mereka terkena pestisida. Kulit merupakan barier yang melindungi tubuh dari racun, meskipun beberapa racun dapat masuk melalui kulit (Henry, 1997)
Gejala-Gejala Keracunan
Sianida dapat menimbulkan banyak gejala pada tubuh, termasuk pada tekanan darah, penglihatan, paru, saraf pusatm jantung, sistem otonom dan sistem metabolisme. Tanda awal keracunan sianida seperti Hiperpnea sementara, nyeri kepala, Dispnea, kecemasan, perubahan perilaku seperti agitasi dan gelisan, berkeringat banyak, warna kulit kemerahan, tubuh terasa lemah dan vertigo juga dapat muncul.
Dalam keracunan stadium kedua, tampak kecemasan berlebihan, koma.dan terjasi konvulsi, kejang, nafas tersengal-sengal, kolaps kardiovaskular, kulit menjadi dingin, berkeringat dan lembat. Nadi menjadi lemah dan lebih cepat. Tanda terakhir dari toksisitas sianida meliputi hipotensi, aritmia kompleks, gagal jantung, udem pada paru-paru dan kematian (Meredith, 1993).
Lakukan Cara Berikut jika Terkena Sianida
Jika terpapar zat sianida, berikut langkah-langkah pertama (pertolongan pertama) yang harus dilakukan (dikutip Health 11/01/2016)
1. Jika terkena pakaian, cepatlah melepasnya
Jika tidak memungkinan melepas pakaian melalui kepala, maka pakaian harus dipotoung. Hal ini untuk mencegah kontak langsung bagian tubuh terhadap zat sianida. Kemudian tempatkan pakaian dalam kantung plastik dan tutup dengan rapat. Buang kantung tersebut dilokasi yang aman dari orang lain, terutama anak-anak.
2. Jika terkena Kulit
Cepatlan mencuci zat sianida dari kulit memakai sabun dan air mengalir dalam jumlah yang banyak. Namun, jangan menggunakan pemutih untuk menghilangkan sianida dari kulit.
3. Jika Mengenai Aksesoris atau alat bantu organ
Bersihkan kacamata atau aksesoris yang Anda pakai dengan sabun dan air sebelum memakainya kembali. Namun untuk lensa komtak yang terpapar zat sianida sebaiknya di buang, agar tidak membahayakan mata.
Selain itu, Anda harus mematikan sianida terhirup, tertelan atau terserap kulit, baru bisa menanganinya dalam pertolongan pertama (dikutip dari webmd.com
1. Mengobati Sianida yang Terhirup atau Terlean
Bila ingin menolong seseorang yang menghirup gas sianida, maka Anda bisa membawanya kel luar menghirup udara segar. Jika Anda tidak bisa pergi jaun, usahakan paparan gas yang lebih besar, ketika teracuni sesak napas, lakukan Cardipulmonary Resuscitation (CPR), tapi ingat untuk tidak melakukan napas buatan.
2. Mengobati Kulit yang Terkena Sianida
Anda harus menghindari menyentuh orang yang terkena sianisa, hanya pihak medis dengan pakaian khusus yang bisa menyentuhnya. Jika Anda menyentuhnya bisa jadi racun tersebut akan menular dengan cara terserap kulit Anda.
3. Mengobati Mata yang Terkena Sianida
Jika mata Anda terkena Sianida, segera cuci mata dengan air selama 10 menit. Bila Anda menggunakan lensa kontak (kacamata), segera lepaskan dari mata Anda. Anda dapat mencuci kaca mata dengan sabun dan air buang lensa kontak tersebut.
4. Tindak Lanjut
Meskipun ketiga cara diatas merupakan pertolongan pertama bagi orang terkena Sianida, Anda tetap harus bisa melaporkan dan membawanya kepada pihak medis untuk diberikan penawar racun dan tambahan oksigen.
Dirangkum dari beberapa sumber.
* * *
